
Ambisi meraih gelar juara sebanyak-banyak satu per satu direvisi. Dari quadruple dan treble, kini Arsenal, Manchester United, dan Chelsea tinggal membidik dua piala. Siapa bertangan hampa?
Wacana ambisius memenangi tiga kompetisi sudah lumrah didengungkan klub-klub besar. Kalau perlu, keempat turnamen yang diikuti bisa dikuasai sekaligus, sebagaimana "keberanian" itu pernah dipelopori Chelsea di masa Jose Mourinho.
Tapi karena quadruple teramat berat dalam iklim kompetisi yang seketat dan sepadat saat ini, maka treble pun sudah seperti barang langka: sulit ditemukan, tapi amat membanggakan jika diperoleh.
Manchester United, misalnya, tak pernah berhenti memimpikan pengulangan sejarah 1999 saat mereka memenangi Premier League, Piala FA, dan Liga Champions. Tak heran, setelah musim lalu merebut kembali titel Liga Inggris dan skuad musim ini dianggap Sir Alex Ferguson sebagai salah satu yang terbaik yang pernah ia miliki, wacana memborong tiga piala diangkat lagi.
Menyebut treble relatif jarang dilakukan kubu Arsenal dan Chelsea. Arsene Wenger dan Avram Grant lebih sering menjadikan Premiership dan Liga Champions sebagai proritas utama. Namun itu bukan berarti mereka tak berambisi meraih tropi lebih banyak. Mereka toh tidak begitu saja ingin membuang Piala FA atau Piala Carling.
Kenyataannya, jangankan quadruple, peluang menyabet treble pun sudah musnah dari ketiga tim elit Inggris tersebut. Mereka sudah kehilangan dua turnamen yang memang ada di bagian bawah prioritas mereka: Piala FA dan Piala Liga Inggris.
Arsenal dibekuk Tottenham Hotspur di semifinal Piala Carling, lalu dihancurkan MU di babak kelima Piala FA. Adapun MU tersingkir di babak-babak awal Piala Carling, lalu didepak Portsmouth di babak perempatfinal Piala FA kemarin malam.
Chelsea barangkali yang lebih "tragis". Mereka berhasil menembus final Piala Carling serta bertemu tim gurem di perempatfinal Piala FA. Hasilnya? The Blues dibekap Spurs di Piala Carling, lalu secara mengejutkan dipecundangi tim divisi dua Barnsley 0-1.
Dengan demikian mereka kini akan fokus ke dua kompetisi. Di Liga Champions peluang mereka relatif masih sama karena telah memegang tiket babak delapan besar, sementara calon lawan mereka baru akan dketahui hari Jumat mendatang.
Persaingan yang lebih mengerucut terjadi di Liga Inggris. Arsenal dan MU boleh jadi lebih berpeluang karena memiliki keunggulan angka cukup besar dari Chelsea. Saat ini Arsenal telah mengumpulkan 66 angka dari 29 pertandingan, MU mengoleksi 64 poin dari 28 kali berlaga. Chelsea, yang baru 27 kali main, bermodalkan 58 angka.
Statistik terakhir menunjukkan grafik Arsenal sedang tak bagus. Mereka hanya meraih hasil seri dalam tiga laga terakhirnya, termasuk saat ditahan 0-0 oleh Wigan tadi malam.
Hal tersebut menjadi keuntungan besar buat MU. Walaupun sempat ditekuk Manchester City, mereka mulai bangun lagi dan berturut-turut mengalahkan Newcastle United dan Fulham. Dengan keunggulan satu pertandingan dari Arsenal saat ini, bukan tidak mungkin The Red Devils bisa menggusur The Gunners di puncak klasemen sementara.
Adapun Chelsea, mereka tak punya pilihan lain kecuali menang dan menang terus supaya kansnya tetap terjaga, seraya "berdoa" agar Arsenal dan MU tersandung.
Satu hal yang pasti, hanya ada satu pemenang. Artinya, tim yang memenangi satu turnamen berarti melenyapkan pula kesempatan tim lain menjadi juara di turnamen tersebut.
Terkait tiga klub Inggris di atas, dari dua piala yang masih tersedia, siapakah yang berhasil merengkuhnya, siapa pula yang tidak kebagian sama sekali? Kita tunggu saja.
Monday, March 10, 2008
Treble Lewat, Siapa Bertangan Hampa?
Posted by
ciblek
at
11:02 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment